Skip to main content

Sastra Lawan Politik Uang

Jelang senja, hujan baru saja reda, para pedagang bergegas menyalakan Ting lampu pijar tradisional. Kemudian menata kuliner dagangannya. Hari itu tanggal 16 Maret 2019, ratusan wisatawan dari berbagai daerah, tak sabar mencicipi makanan khas lokal Wonosobo yang disajikan di Pasar Ting Janti, Desa Kadipaten, Kecamatan Selomerto. 

Sekitar pukul 20.00 WIB, semua pedagang memukuli kentongan. Di sebelah selatan Pasar Ting, berdiri panggung bambu. Terdengar mengalun sajak puisi.

Merahnya uang merah di ambang pagi merekah.

Nanar mata, sejenak jiwa pun tergoda

Ku seperti pecundang dihadang bumerang

Tangan terangkat isyaratkan kalah menyerah

Nyaris tunduk takluk pada merahnya uang merah.

Fajar Saka

Yap, secuil puisi tersebut, merupakan potongan dari puisi berjudul Serangan Fajar karya Murtiningsih yang dibacakan Ketua Bawaslu Jawa Tengah M. Fajar Subhi A.K Arif. Puisi tersebut menandai malam tadarus puisi  dan launching buku berjudul Berani Menggeleng : Antologi Puisi Tolak Politik Uang, diprakarsai Bawaslu Wonosobo bekerjasama dengan Komunitas Satra Bima Lukar Wonosobo.

Proses penerbitan buku melibatkan berbagai penulis puisi dari Wonosobo dan berbagai daerah. Menariknya penulis buku tidak hanya warga Indonesia di dalam negeri, namun sejumlah warga Indonesia yang berada di luar negeri ikut berkontribusi mengirimkan karya. Buku yang terbit dengan proses selama satu bulan tersebut, memuat karya 31 Penulis puisi dari berbagai latar, dimulai dari  penyair, guru, pegiat seni, pengawas pemilu, seniman, aktivis, pelajar, mahasiswa serta TKI.

M. Fajar Subhi A.K Arif Ketua Bawaslu Provinsi Jawa Tengah menjelaskan, Bawaslu Provinsi mengharapkan setiap Bawaslu Kabupaten dan Kota melakukan kegiatan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat melalui komunitas-komunitas agar Bawaslu semakin diketahui masyarakat.

Fajar Saka

“Kami berharap gerakan anti politik uang ini benar-benar bisa menjadi nyata, yaitu ketika nanti ada pihak-pihak yang mencoba untuk melakukan transaksi  jual-beli suara dalam Pemilu 2019, maka kami berharap masyarakat untuk berani menolak dan mengatakan tidak untuk politik uang,” terangnya.  

Ketua Bawaslu Wonosobo Sumali Ibnu Chamid menambahkan, arah dari sosialisasi ini, Bawaslu mengajak masyarakat yang sudah memiliki hak pilihnya, untuk menggunakan hak pilihnya secara benar dan tidak terpengaruh oleh money politik. Launching Buku kumpulan Puisi “Berani Menggeleng” merupakan acara inti pada acara bergenre sastra, dimana para penyair membacakan puisi-puisi dalam buku tersebut.

“Saya meyakini ketika peradaban sudah agak bengkok, tugas budayawan dan sastrawan untuk meluruskan. Oleh karna itu Bawaslu salah satunya melakukan sosialisasi melalui  pendekatan sastra,” ungkap Ketua Bawaslu Wonosobo dihadiri ratusan penonton.

Dalam kegiatan peluncuran buku, malam itu terdapat beberapa penampilan diantaranya, peluncuran film pendek berjudul “Tuman (Money Politic Ora Jaman)” karya Komunitas Bumbung Suwung, Musikalisasi Puisi dari Komunitas Teater Banyu dan Penampilan Pantomim Dagelan Politik dari Sanggar Bagaskara. Tidak hanya itu saja, Edi AH Iyubenu Budayawan dari Jogjakarta menutup penampilan acara Malam Puisi Tolak Politik  dengan Orasi Budaya. Selain dihadiri oleh Komisioner Bawaslu Kabupaten Wonosobo, Wakapolres Wonosobo Kompol Sopanah juga turut hadir dan membacakan puisi. (Dedik/Humasbawasluwsb)